"HIDUP TAK AKAN PERNA MENDAPATKAN KEDUDUKANNYA MENJADI SEBUAH KEBENARAN YANG UNTUH SECARA OBYEKTIF, HIDUP AKAN TERUS BERLANJUT DAN TERUS BERKEMBANG BERDASARKAN ZAMANNYA TAK ADA YANG ABADI DAN TAK ADA YANG TETAP".

Respon Hari Anti Korupsi dan Hari HAM

Respon Hari Anti Korupsi dan Hari HAM
Gambar ini diambil pada tanggal 9 Desember 2011, Front Perjuangan Rakyat (FPR-SULTENG).

Selasa, 22 Juni 2010

Gejolak Hati; Teriakan Kata Cinta

Kehidupan mengalirkan rasa,

Jiwa melayang ungkap makna sesama

Rasa cinta hanya tertuang pada-Nya

Abdi diri suka cita sesame untuk-Nya

Duka lara seyum muka tawa dalam coba

Ketetapan-Nya terbaik dalam jalani makna

Sematkan ruh Illahi dalam dekapan

Cintai sesame, musuh, lawan untuk ciptakan damai dunia

Serukan cintai tauhid untuk insane menembus surga

Kesunyian…



Hembusan angina memanggil menumpahkan rasa

Jiwa kejar cita ungkap masa

Takdir lara dalam rasa bahagia

Sukma ungkap rahasia Pencipta untuk hamba

Tebarkan keabadian sesama

Waktu berlari kian nampak bayang

Batang usia terasa makin tinggi

Bekal keabadian bertambah

Pandangan masa depan kian jelas

Tumpuan cita makin terasa

Pijakan jiwa kian dalam

Kebaikan semua rasakan

Tempat harum tercium

Akankah tercipta surga dunia untuk menyatu pada-Nya

Kepada indahnya malam

Diiringi bulan yang ditebarkan bintang-bintang

Insane memantapkan hati dan pikiran keagungan Illahi

Kapan mensyukuri dengan penghambaan totalitas?

Agar tercipta sifat Illahi untuk sesama dan alam

Tiga puluh hari lebih sudah kita lewati

Saat akhir-akhir bulan suci akan usai sudah

Sudahkah kita menginternaslisasi puasa karna Tuhan?

Makin sholehkan kita dalam ibadah dan laku?

Makinkah kita cintai musuh-musuh kita?

Makinkah kita sayangi orang-orang yang benci terhadap kita?

Makinkah kita berguna untuk sesama?

Makinkah kita selaras dengan alam?

Makinkah kita ridha dengan kehidupan kita?

Makinkah kita kita tebarkan cahaya Illahiuntuk sesama dan alam?

Makinkah kita ikslas dengan segala perbuatan kita?

Meningkatkah dan lompatan quantum kebajikan kita?

Dapatkah malam mulia kita peroleh?

Pastaskah kita mendapatkan wisuda mutaqin dari Tuhan?

Trus gimanakah kita melihat wajah Mu Illahi yang ku rindu?

Akankah kita jumpa dengan ramadhan lagi..

Pergi…

Menjauh melintas ruang waktu

Seyap sepi hati teriakan kata serta derai air mata

Khan kah bersua bulan yang dinanti

Muslim bergembira peroleh takwa

Perayaan memaafkan sesame dalam cinta

Pengiringan gema takbir menggema menembus dewala kehinaan

Ketika suatu dosa menjadi biasa

Maka hidup khan tak bermakna

Tumpuan langkah tersauk-sauk oleh kehinaan

Diri berdiri tegak jatuh tersungkur

Ingatan Illahi menambah beban diri dalam lampur hitam dosa

Kebiasaan alamiah dan intuisi inderawi kuasai hati

Akal tunduk emosi nafsu meledak dasyat

Dosa mengalir derasnya menembus dewala hamba

Tersadarkan kehinaan datang dan terus datang

Akal bertanya kapankah intuisi indrawi akan hilang

Penghambaan totalitas pada Illahi

Mengapa terulang kesalahan-kesalahan yang sama?

Menjadikan tak pantas disebut sebaai insane yang beragama

Akankah sinar dan air salju sucikan diri menghilangkan intuisi inderawi

Ku tunggu belaian Tuhan untuk secinakan kehinaan kenistaan

Tapi akankah diri pantas untuk itu semua?

Jika tidak ampuni salah serta hilangkan intuisi inderawi ini

Agar dapat memberi makna diri dalam proses makna hidup

Totalkan hamba hanya pada-Mu

Gerak langkah piker jiwa serta intuisi jadi ruh Illahi dalam diri.

Terimakasih cinta untuk segala

Telah kau berikan pada ku

Kesempatan merupakan raihan

Harapan tentag mimpi-mimpi indah

Menembus langit ruang waktu

Pelukan kehangatan sinar keabadian surga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Dilarang menulis komentar yg tidak senono dengan etika merusak moral dan berbau SARA.