"HIDUP TAK AKAN PERNA MENDAPATKAN KEDUDUKANNYA MENJADI SEBUAH KEBENARAN YANG UNTUH SECARA OBYEKTIF, HIDUP AKAN TERUS BERLANJUT DAN TERUS BERKEMBANG BERDASARKAN ZAMANNYA TAK ADA YANG ABADI DAN TAK ADA YANG TETAP".

Respon Hari Anti Korupsi dan Hari HAM

Respon Hari Anti Korupsi dan Hari HAM
Gambar ini diambil pada tanggal 9 Desember 2011, Front Perjuangan Rakyat (FPR-SULTENG).

Minggu, 11 Desember 2011

Pokok-Pokok Sejarah Pemikiran Trotsky


Bagian Satu: Bertemu Lenin
Fajar belum sepenuhnya memudar di langit kota London, pintu rumah Lenin tiba-tiba diketuk keras oleh seseorang yang nampaknya sedang tergesa-gesa. Istri Lenin, Nadezhda Krupskaya, segera membukakan pintu dan membawanya menuju kamar kerja Lenin.
“Ohh, Kamerad...,” ucap Lenin kaget.
“Bronstein, dari Yanovka,” sahut seseorang itu.
Lenin sungguh terkejut, ternyata yang datang adalah seorang pemuda revolusioner dari Yanovka yang sudah ia kenal namanya. Ya, pemuda itu adalah Lev Bronstein, yang di kemudian hari dikenal dengan nama: Leon Trotsky[1].

Usai Krupskaya kembali dengan kopi, Lenin langsung mengajak Trotsky terlibat dalam diskusi dengan para pemberontak muda. Masa itu sangat berkesan bagi Trotsky . Tahun 1902.
Trotsky, yang lahir dengan nama lengkap Lev Davidovich Bronstein, sudah terkenal di kalangan kaum radikal sebagai organiser buruh, pemikir, dan penulis berbakat. Setelah menghabiskan waktu di penjara Siberia karena aktivitasnya di serikat buruh, ia melarikan diri ke Inggris atas permintaan Lenin. Tetapi ketika mendengar kabar bahwa gerakan rakyat Rusia mulai tumbuh, dan atas desakan kawan-kawannya serta istri pertamanya, Alexandra Sokolovskaya[2], Trotsky kemudian kembali lagi ke Rusia untuk melanjutkan perjuangan.

Manusia Tidak Hidup dari Politik Saja


Gagasan sederhana ini – manusia tidak hidup dari politik saja – harus sepenuhnya dipahami dan dipikirkan oleh semua yang berpidato 

atau menulis untuk tujuan propaganda. Waktu yang berubah membawa nada yang berubah. Sejarah partai kita sebelum revolusi adalah sejarah politik revolusioner. Literatur partai, organisasi partai – semuanya dikuasai oleh politik dalam pengertian yang paling langsung dan sempit dari kata tersebut. Krisis revolusioner telah membuat kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah politik bahkan lebih intensif. Partai harus merekrut elemen-elemen kelas buruh yang paling aktif secara politik. Saat ini kelas buruh sangatlah sadar akan pencapaian-pencapaianfundamental dari revolusi ini. Kita tidak perlu mengulang-ulang lagi dan lagi cerita mengenai hasil-hasil tersebut. Ini sudah tidak lagi menggugah pikiran kaum buruh, dan justru lebih mungkin menghapus dari pikiran kaum buruh pelajaran-pelajaran dari masa lalu. Dengan penaklukan kekuasaan dan konsolidasinya sebagai hasil dari perang saudara, masalah-masalah utama kita telah bergeser ke kebutuhan-kebutuhan kebudayaan dan rekonstruksi ekonomi. Mereka telah menjadi lebih rumit, lebih detil, dan lebih langsung. Namun, untuk membenarkan semua perjuangan sebelumnya dan semua pengorbanan kita, kita harus belajar memahami masalah-masalah kebudayaan yang beragam ini, dan menyelesaikan mereka satu-per-satu.

Sekarang, apa yang sebenarnya telah dicapai dan diamankan oleh kelas buruh dari revolusi ini?

Pelajaran-pelajaran Komune Paris


Setiap kali kita mempelajari sejarah Komune Paris, kita melihatnya dari aspek yang baru. Dan ini adalah karena pengalaman yang telah kita peroleh dari perjuangan-perjuangan revolusioner sesudahnya dan terutama oleh revolusi-revolusi baru-baru ini, bukan hanya Revolusi Rusia, tetapi juga Revolusi Jerman dan Hungaria. Peperangan Franco-Jerman[1] adalah sebuah ledakan yang berdarah-darah, sang pembawa pembantaian besar. Komune Paris adalah pembawa revolusi proletar dunia.
Komune Paris menunjukkan kepada kita kepahlawanan rakyat pekerja, kemampuan mereka untuk bersatu, keberanian mereka untuk berkorban demi masa depan, tetapi pada saat yang sama Komune Paris menunjukkan kepada kita ketidakmampuan massa untuk memilih jalan mereka, keragu-raguan kepemimpinan gerakannya, kecondongan fatal mereka untuk berhenti setelah keberhasilan-keberhasilan awal, yang oleh karenanya memungkinkan musuhnya untuk mengambil napas dan membangun kembali posisinya.
Komune Paris tiba terlambat. Ia memiliki semua peluang untuk merebut kekuasaan pada 4 September dan ini akan memungkinkan kaum proletariat Paris untuk segera menempatkan diri mereka sebagai pemimpin kaum pekerja seluruh Prancis dalam perjuangan mereka melawan semua kekuatan-kekuatan dari masa lalu, melawan Bismarck[2] dan juga Thiers[3]. Tetapi kekuasaan jatuh ke tangan kaum demokrat yang hanya gemar berpidato. Kaum proletar Paris tidak punya sebuah partai, atau para pemimpin yang telah terikat kuat oleh perjuangan-perjuangan sebelumnya. Para patriot borjuis kecil, yang mengira diri mereka sosialis dan mencari dukungan para buruh, sesungguhnya tidak punya kepercayaan diri. Mereka mengoyahkan kepercayaan diri kaum proletar. Mereka terus mencari para pengacara terkemuka, jurnalis-jurnalis, wakil-wakil parlemen, yang tas-tasnya hanya berisi beberapa frase-frase revolusioner yang tidak jelas, untuk mempercayakan kepemimpinan gerakan pada mereka.

Jumat, 09 Desember 2011

BTNLL Berkilah Tolak


Pembangunan Jalan dan Perumahan di Katu

Sumber : SUARA SULTENG
Kamis, 13 Maret 2008

Palu-Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) berkilah atas penolakannya terhadap rencana pembangunan proyek jalan dan pemukiman di desa Katu, Kabupaten Poso.

Humas BTNLL, Agus Yulianto, ketika dikonfirmasi Suara Sulteng di kantornya, Rabu (12/3) kemarin, menampik tuduhan penolakan yang dialamatkan ke lembaganya karena katanya itu bakan wewenang Balai untuk menolak atau menyetujui adanya rencana pengalih-fungsian sebagian kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) menjadi jalan tetapi penentuan kebijakannya ada dimateri kehutanan. “Itu bukan wewenang kami, tetapi materi Kehutanan,” Kata Agus.

Menurutnya, apa yang yang dilakukan Balai, hanya menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan kewenangan yang diberikan, berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam (SDA), hayati dan Ekosistem serta UU Kehutanan Nomor 41 tahun 1999.
Agus menjelaskan, ada tiga fungsi Taman Nasiona yaitu pertama perlindungan sistem, kedua pengawetan keanekaragaman hayati, tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari SDA, keanekaragaman hayati, tumbuhan dan satwa di dalam kawasan Taman Nasional (TN).

Agama dan Kemiskinan

Oleh : Adriansyah, Mahasiswa Sosiologi, Fisip Universitas Tadulako

Apakah hubungan agama dan ketertindasan ? dalam agama penindasan terhadap sesama manusia sangat dilarang, agama adalah jalan menuju surgawi, sementara penindasan merupakan perlakuan orang yang melanggar hak-hak diri terhadap sesamanya dan selalu berkaitan dengan perlakuan kekerasan terhadap sesama manusia, agama diberikan sosok ilahi kepada manusia.

Ketertindasan yang saya maksutkan disini adalah ketertindasan  ekonomi yang menyebabkan orang miskin dan sengsara.

Jadi tidak ada hubungan antara agama dan ketertindasan, bernarkah demikian..? agama sangat melarang kekerasan terhadap sesama, apalagi dalam agama kristen yang menjunjung tinggi kasih terhadap sesama manusia, dan tidak ada agama yang membenarkan penindasan, lalu apa hubungannya antara agama dan ketertindasan..? dalam kehidupan sosio ekonomi politik yang religius masyarakat terbagi atas dua kelas ada yang disebut kelas tertindas dan ada yang disebut kelas penindas yaitu orang-orang yang melakukan eksploitasi terhadap sesama manusia sehingga menyebabkan manusia-manusia lain tertindas dan sengsara.

Kamis, 08 Desember 2011

Bencana dan Kemiskinan


Oleh : Adriansyah, Mahasiswa Sosiologi, Fisip Universitas Tadulako Palu

“Berserah kepada Tuhan, mungkin ini adalah keinginannya karena manusia semakin  seraka,” begitulah ungkapan yang kerapkali dinyatakan oleh orang-orang ketika mendapat bencana. Lebih tragis lagi, semua orangketika bencana datang harus berseru mempertanyakan hal yang sama, “inilah fakta yang harus kita terima suka atau tidak” Berbagai bencana terus melanda negeri ini. “Bagi kami kaum awam, hanya bisa pasrah dan menerima serta taat terhadap ajaran-anjar kebaikan yang kami peroleh dari keyakinan kami masing-masing.” Gelisah seorang kawan.  Sudah sekian tahun indonesia selalu mengalami bencana mungkin belum hilang dalam benak kita kejadian  pada tanggal 26 desember 2004 sunami yang melanda kota Aceh, semua orang berdoa dan berbondong-bondong memberikan bantuan mulai dari luar negeri hingga ke tingkat daerah di indonesia.

Kamis, 01 Desember 2011

Tugas-Tugas Demokratik Kaum Buruh (Pengantar Diskusi)

08/05/2011

 
Oleh Ganjar Krisdiyan*

Ketika menerima undangan dari TURC ini, melihat tema diskusinya: Transformasi Gerakan Buruh Menuju Gerakan Sosial dan Politik, mengingatkan saya kembali ketika memulai terlibat dalam gerakan, saya memulai semuanya sejak akhir tahun 1995 sebagai aktivis kampus, dan pada awal-awal tahun 1996 saya mulai melibatkan diri dalam rencana pemogokan umum/gabungan buruh di Tandes Surabaya bersama Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), pada waktu itu selain menuntut masalah-masalah normatif seperti cuti haid dan cuti hamil, pembayaran uang lembur, jamsostek dll PPBI juga menuntut Upah Minimum Nasional (UMN) sebesar Rp. 7000,-/hari (pada saat itu upah buruhnya hanya Rp. 3500,-/hari, Pencabutan Dwi Fungsi ABRI dan Pencabutan 5 Paket UU Politik. Seketika, pada satu hari setelah dimulainya pemogokan, kehebohan terjadi, hampir semua koran memberitakan, dengan tema yang hampir mirip, yaitu BURUH MENUNTUT DEMOKRASI, APA HUBUNGANNYA? Pemberitaan-pemberitaan pun dibuat sangat berat sebelah, dan yang paling banyak dimuat adalah pernyataan-pernyataan dari penguasa militer, baik daerah (Pangdam) maupun nasional (terutama dari Kasospol ABRI), yang inti pendapatnya kira-kira “BURUH KOK MENUNTUT DEMOKRASI, PASTI ADA YANG MENUNGGANGI”.

Rabu, 23 November 2011

PROBLEM FILSAFAT Part 1

MENJELANG KEMAJUAN

Menyambut penerbitan edisi kolektor JURNAL PROBLEM FILSAFAT

Pada mulanya adalah laporan kerja. Bukan komunikasi. Dari kerja membaca buku dan perkembangan pemikiran di Sekolah tinggi Filsafat Driyarkara (STFD); dari kerja diskusi-diskusin informal diwarung pojok GM “tidak mungkin Goenawan Muhammad berinvestasi di sebuah kios rokok, karenanya GM adalah okronim dari pemilik warung mas Gun dan mbak Mei”; dari kerja diskusi-diskusi bernuansa minuman fermentasi dari kota Semarang dan sekitarnya. Yang pertama memperanakkan semangat membaca; yang kedua memperanakan humor-humor kias filsafat, dan yang ketiga memperanakkan kritik dan penulisan ilmiah. Semangat membaca memperanakkan upaya mengumpulkan berbagai macam buku filsafat dari ujung paling kanan hingga titian baca Marxisme. Dari landas gerak sejarah siklis a Ia Yunani antik, ekskatologi Abad pertengahan, progresif-idealis Hegelian, sampai progresif-dialektis Marxian.

Kesepakatan To i Katu untuk Perencanaan Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.


Kesepakatan To i Katu (2011-2015)
Perencanaan Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Desa Katu, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah

Demokrasi dan Hak Asasi Manusia


MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
-----



DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA[1]


Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H.[2]




A.    Demokrasi, HAM, dan Negara
HAM dan demokrasi merupakan konsepsi kemanusiaan dan relasi sosial yang dilahirkan dari sejarah peradaban manusia di seluruh penjuru dunia. HAM dan demokrasi juga dapat dimaknai sebagai hasil perjuangan manusia untuk mempertahankan dan mencapai harkat kemanusiaannya, sebab hingga saat ini hanya konsepsi HAM dan demokrasilah yang terbukti paling mengakui dan menjamin harkat kemanusiaan.