Keganasan yang dengannya “komunitas internasional” dan media dunia mempersetan, menghina, dan mengutuk negara Pakistan telah mencengangkan elit penguasa setempat di negeri itu. Serangan-serangan yang menyengat, yang dilancarkan oleh para pemikir-strategis (think-tank) dan cendekiawan imperialis, terhadap ISI [agen rahasia Pakistan] dan pemerintahan negeri itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Sebuah “negara yang gagal”, “tempat yang paling berbahaya di dunia”, “sangat penuh kebohongan”, “pengkhianat”, adalah beberapa ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan negara Pakistan. The Economist menulis dalam edisi terakhirnya, “Bila ditempatkan di manapun, Pakistan – yang juga memiliki catatan terburuk di dunia dalam hal pelucutan senjata nuklir – dapat dianggap sebagai sebuah negara berandalan (rogue state)”.
Semuanya ini secara parsial bahkan mungkin secara total benar bila kita berbicara tentang elit Pakistan, klas-klas penguasanya, dan para aparatur negaranya yang kebingungan. Namun kenyataannya, pemerintahan apapun yang kita jumpai di Pakistan, itu merupakan bikinan kaum imperialis sendiri. Tidak ada keraguan bahwa klas-klas penguasa yang terlambat tampil di panggung sejarah dan lemah secara ekonomi terpaksa bersandar pada imperialisme dan bergabung dengan sisa-sisa feodalisme sejak negeri itu dilahirkan.